Feeds:
Posts
Comments

gelombang dan pantai

jukung pun membawaku ke tepian
membuatku terpana menatapi
pantai yang dicumbu teluk

tidal, tidak njlimet, ah
tak tahulah aku
gelombang, mudah pula, ah
ngga ngerti aku
berat cara itu, ah lapar

tanpa sadar kumenoleh
menggiringku kembali pada jukung
dan pelepah njamprong sebagai dayung
menyiaki ombak bergulunggulung
ah, mati saja aku
ya, mati saja kamu
sama saja
tahya wa tamutu
tiada membekas di batu
hanya nisan itu
seharga sepuluhan ribu
dah lapuk, dari bonggol kayu

ya, makan saja aku
wahai hiu, dengan gerigimu itu
sebagai persembahanku
pada rotasi waktu
dan menarilah kamu
bersama gelombang yang dilupakan
lalu berlombalah kamu
dalam lajurlajur dan siaksiuk
medan magnet yang dialpakan

namun sebelum kusembahkan
perkenan aku mencumbui sobatmu
itu dibelakangmu, meminta izinmu
duyung molek mlodong abeha itu
mondelmondel mengirimkan sinyal dan
setrum feromon melalui atmosfer pula air asin
aku minus dia plus, ah
sama saja dibalikbalik,
aku plus dia minus
cret cret ah…
itu dia, mencipta kilat asmara

asal saja bukan plus plus
bagai pantipijat langganan di ujung sono itu
bukan pula minus minus
bukan karena aku tak menghargai hak asasi
tapi semata itu hukum semesta yang tercipta

dari gugusan piramid, cangkang keong,
roti donat, kubus, percik air
[kalau kataku sih tempat liar tapi luwes
jadi bisa ditilik darimana saja dan lebih dari itu
enak diamplifayeri]
buah permainan ionion pun elektronelektron

ah, ingin sekali benarbenar tenggelam
menari bersama gelombang laut biru itu
daripada kini, meratapi tepian pantai

/ ali sobirin / athens, 11 april 2010 /

landong

langit kelam
bumi menghampar
taburan terang
berhias kelapkelip
temaram dibalik kabut dan
dahanranting oakoak tua

separuh lutut terbenam
dalam jejak gontai dari
kantuk malam dan sisasisa
jejeritan dan lelarian diatas
karpet tebal perpustakaan
heningmistis sealur hawa

landong landong
gegantian jalan gendong sebab
meringis tak kuasa menuruti
nyanyian barni dan senyum tiadadosa
mengukir malam
memahati padang

sarungtangan pun tiada daya
ditembus miris kembangkembang baru
yang terburuburu pula uap es
sepanjang mata lepas dan berminggu
namun tak mengganggu
lenggang dan maumu

landong landong
gegantian jalan gendong sebab
tak kuasa memaksa jagad
yang kujubelkan dalam tas
atas pilih dan sukamu
sebanyak maumu

/ ali sobirin / athens, 17 februari 2010 /

nyanyian melati

aku setangkai melati
terlunta kini, menyanyi tangis sepi
di tamansari yang beranjak angker
menjadi kuburan

para pecinta, kini
enggan bercumbu rayu
di bawah rimbun putih-daunku tuk
menghirupi aromaku, di tamansariku

aku setangkai melati,
bernyanyi duka, kini

para pengantin tak mau lagi, menjadikanku pita-kepang
sebagai penghias sanggul dan pewangi gaun putri raja
mereka tak mau lagi, menaburkanku di ranjang pelaminan
sebagai pembangkit sukma tuk mendekap cinta

karena, aku terlunta,
telah layu dalam kebisuan

tahukah kau akibat lainnya?

aku tak bisa lagi memproduksi serbuk sari, yang menyebabkan
tawon-tawon, ribuan lebah, dan dengungan kumbang
tak mampu lagi menghasilkan madu, sehingga
tak ada lagi botol-botol madu murni di
mall-mall yang menjulang pongah itu, yang mengakibatkan
bayi-bayi yang disapih-paksa oleh ibu-karirnya
menangis bagai halilintar melawan petala

“oa, oa,”

lalu, seorang columnis pun menulis, dengan judul “ibu dan madu”
juga seorang cerpenis, ikut membuat kisah, berjudul “bayi madu”
ya, kamu mengusirku dan menghancurkan tamansariku

duh…
aku setangkai melati, menyanyikan tanya:

mengapa kamu begitu tega, menghancurkan ramainya tamanku
mengapa dirimu begitu hina, memporandakan bermacamnya tamanku
mengapa hatimu begitu kerdil, lalu melabraki beranekanya tamanku
mengapa kamu begitu bodoh, dan mencoreng moreng asri wajahku

dan, dalam nyanyi batin ini aku bingung:
kemanakah gerangan nalarmu, rasamu,
juga kitab suci yang
kau agung-agungkan itu?

tak tahukah kamu,
aku menjadi melati karena sudah ada mawar
aku dinamai melati karena ada kenanga
ada sedap malam
ada anggrek
kembang tanjung
bunga cempaka
juga kenanga

tak tahukah kamu,
aku bernama, karena ada nama-nama lain
aku berada, karena ada ada-ada lain

Kalau tidak berada,
kalau tidak bernama,
tidak jadilah itu para peziarah
memuja kita dalam taburan puja-cinta
sebagai kembang tujuh rupa

tak sadarkah kamu,
aku berbeda, karena memang tuhan
memaksaku berbeda, menjadikanku berbeda

Walaupun begitu, toh kita tetap sama-sama
kembang tuhan di taman ini, tuk meramaikan ini
tak mengertikah kamu

kalau kau masih tak terima,
mengapa tidak kau kutuk saja tuhan
yang telah menciptakan,

bauku dengan wangi demikian
kuncupku dengan putih begini
bentukku, yang mungil ini
menjadi melati
sebagai melati

atau, jangan-jangan,
apakah,
kau memang sedang,
menggugat dan mengutuki Tuhan?

/ ali sobirin / athens, 9 januari 2010 /
dibacakan di Indo-Night, Hall 4th Floor, Baker Center
Ohio University, Athens, Ohio, USA pada 12 Februari 2010

dan pagi itu Tuhan mengirimkan hadiah untukmu
kembang es yang bertabur selaksa serpihan kapas
menghiasi dahandahan dan batangbatang
pohon yang sedang tak berdaun dan atapatap
apartement juga rerumputan dan jalanan
menjadi putih mengilap

tiada henti kunikmati putihmu bagai
bocah lugu yang tak mau lepas dari mainan baru
lalu kuletakkan gelas di pagar kayu oak tuk
menampung taburan salju sebagai persiapan
pesta kecil untukmu di mintuju

dan kuhadiahi tigapuluhmu dengan masakan
yang kuracik dengan tanganku yang gelagapan
menaburi air panas di dalam panci yang bertengger
di atas besi beralir listrik yang mengukir bagai obat nyamuk
dengan aneka bumbu di botol kecil yang aku tak tahu
apa itu dan untuk apa itu

tiada jalan lain
tiada daya memberimu apa
hanya itu dan ucapan selamat klasik
yang sungguh kupaksa menyela dari hati
melawan sesak dan duka berkurangnya usia
namun belum juga ada karya nyata ku
tuk manusia dan semesta

kulongok berkalikali gelas itu dan kusaksi
tiada kembang bertengger tapi
leleh air yang mengandaskan mimpi
melumuri gumpalan salju dengan
sirup coklat dan strawberi

/ ali sobirin / athens, 5 desember 2009 /

buka jilbabmu

bukalah kerudungmu tipiku
kangen aku pada indah rambutmu, yang
kaututupi sebulan lamanya itu

artisku, pula buka jilbabmu itu
lelah rasanya menyaksimu berlenggok semuci
kembalilah seperti semula

dengan ketiak mulusmu, yang biasa kuintipi
dengan indah betismu, yang bisa kujilati
dan selangkanganmu itu, yang sering kuendusi

dalam lamunku
dengan lidahku
bersama nafasku

sinetronku, cepatlah kembali
rindu aku pada caci dan makimu
pada cerita selingkuhanmu

dan pada naskah anak gedonganmu yang
tanpa susah dan derita bertengger jadi direktur
lalu bermobil mewah di rumahrumah gedong

yang terus bersambung
hingga beratus kilometer benang
kusut semrawut bagai jewawut

dan terima kasihku padamu
raja dan ratu dan para pejuang sinetron
atas hiburanmu itu

nemani ibuku
ndendang adikadikku
ngemong anakanakku

/ ali sobirin / athens, 23 september 2009 /

al-Hub

la huwa illa Hu

Hu huwa Huwa
Huwa, al-awwal wa al-akhir
Lahu, al-dunya wa al-akhirat
laHu. al-ardh wa al-samawat

laHu, ma bainahuma
laisa lana wa laka
laisa lahu wa laha
laisa lakum

Huwa huwa Hu
ilaiHi wa alaiHu
al-qalb, al-fikr wa al-fi’lu
al-Hubbu

qiblaty wa bashary
shalaty wa nusuky
mathluby wa maqsudy
mahyaya wa mamaty

alaiHi wa ilaiHi
lainMu nisbi.

/ ali sobirin / athens, 2 juni 2009 /

gundu rasa tukang ronda

aku ini hanya tukang ronda yang menghabiskan waktuku untuk catur atau krambol atau lebih sering main gaple, tentu saja tidak sendirian karena aku bukan orang gila, sambil nunggu waktu keliling, yang tidak ada aturan atau jadual ataupun komando selain dari insting.

itulah mengapa aku tahu keadaan desaku di setiap lekuknya. siapasiapa yang rajin menyapaku dengan kue apem dan atau wedang jahe pun kutahu. ada yang ikhlas pula ada yang untuk menutup mulutku dari aksinya bertandang ke tetangga sebelah atau bermain desah canda di ujung desa.

siapa maling, siapa guru ngaji, yang jadi maling, siapa pejabat, yang jadi maling, siapasiapa yang menjadi siapasiapa, aku tahu. siapa pendatang yang sekadar ingin bersenangsenang, atau justru ingin menjadi penduduk desa, atau berencana menguasai desa; aku pun tahu.

garduku ini tempat keluhkesah, pula tempat rayurayu, maka pula tempat tiputipu dengan berbagai suguhan berbosbos rokok yang kadang berteman nasi bungkus dari warteg sebelah dengan lauk wah.

anakanak siapa di pojok mana karena apa meronta aku tahu. anakanak siapa yang jadi korban narkoba, anakanak siapa yang tidak sekolah karena tak mampu membayar uang gedung, aku tahu. aku pun tahu remajaremaja desa kini berlagak kota.

termasuk para ibu yang kerjaannya ngerumpi dan berdiskusi panjanglebar sambil ngaji, kadang sampai musuhan, bagaimana nasib idola mereka di akhir cerita sinetron yang tak pernah ada akhir; aku tahu.

sawah ladang siapa yang puso, pupuk perusak tanah yang harganya melangit, aku tahu. siapa yang bilang alhamdulillah karena untung oleh sebab tidak merugi tapi impas antara pemasukan dari hasil tanam dan pengeluaran semasa tanam, aku tahu.

rumahrumah siapa yang magrongmagrong bak istana tempat berpesta pora, aku pun tahu. detailnya. contoh kecil saja soal bagibagi hasil proyek jalan desa. aku tahu itu.

aku ini peronda, bukan pemuja kata. kini kamu tahu kan siapa aku? bukan penyair yang mengatakan derita dengan diksi dahan kering, menyatakan bahagia dengan frase sekuntum mekar mawar, bilang setia dengan seikat tali rafia, kehidupan dengan alir gemericik air, atau polesanpolesan lain yang membuat nyata menjadi semu.

aku peronda, tidak bangga pada prakira bahwa kian sulit dipahami kian berarti. karena aku peronda, maka kukatakan sebabnya. sangat berbahaya jika kentong tanda maling atau kebakaran yang kutabuh dipahami sebagai kentong shubuh yang membuat tubuh kian memistol.

/ ali sobirin / athens, 13 september 2009 /

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.