jukung pun membawaku ke tepian
membuatku terpana menatapi
pantai yang dicumbu teluk
tidal, tidak njlimet, ah
tak tahulah aku
gelombang, mudah pula, ah
ngga ngerti aku
berat cara itu, ah lapar
tanpa sadar kumenoleh
menggiringku kembali pada jukung
dan pelepah njamprong sebagai dayung
menyiaki ombak bergulunggulung
ah, mati saja aku
ya, mati saja kamu
sama saja
tahya wa tamutu
tiada membekas di batu
hanya nisan itu
seharga sepuluhan ribu
dah lapuk, dari bonggol kayu
ya, makan saja aku
wahai hiu, dengan gerigimu itu
sebagai persembahanku
pada rotasi waktu
dan menarilah kamu
bersama gelombang yang dilupakan
lalu berlombalah kamu
dalam lajurlajur dan siaksiuk
medan magnet yang dialpakan
namun sebelum kusembahkan
perkenan aku mencumbui sobatmu
itu dibelakangmu, meminta izinmu
duyung molek mlodong abeha itu
mondelmondel mengirimkan sinyal dan
setrum feromon melalui atmosfer pula air asin
aku minus dia plus, ah
sama saja dibalikbalik,
aku plus dia minus
cret cret ah…
itu dia, mencipta kilat asmara
asal saja bukan plus plus
bagai pantipijat langganan di ujung sono itu
bukan pula minus minus
bukan karena aku tak menghargai hak asasi
tapi semata itu hukum semesta yang tercipta
dari gugusan piramid, cangkang keong,
roti donat, kubus, percik air
[kalau kataku sih tempat liar tapi luwes
jadi bisa ditilik darimana saja dan lebih dari itu
enak diamplifayeri]
buah permainan ionion pun elektronelektron
ah, ingin sekali benarbenar tenggelam
menari bersama gelombang laut biru itu
daripada kini, meratapi tepian pantai
/ ali sobirin / athens, 11 april 2010 /